Mendagri Tito Karnavian Kagumi Kemajuan Dukcapil Dengan Inovasi Big Data


225

Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D., memuji perkembangan kinerja Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil). Menurutnya, dengan inovasi big data, Ditjen Dukcapil kini telah sangat maju.

Hal itu ia ungkapkan kala memberikan arahan di acara Silaturahmi Mendagri dengan Jajaran Ditjen Bina Pemdes (Pemerintahan Desa) dan Ditjen Dukcapil di Aula Gedung E Komplek Perkantoran Ditjen Dukcapil dan Ditjen Bina Pemdes, Jakarta, Selasa (07/01/2020).

Tito mengatakan kekagumannya pada Dukcapil telah muncul kala dirinya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Inovasi big data kependudukan ini menurutnya dapat menjadi dasar bagi inovasi-inovasi lainnya, sebab dengan big data profiling dan segmentasi penduduk menjadi mungkin dan cepat.

“Semenjak saya jadi Kapolri saya katakan kagum dengan kemajuan Dukcapil dengan big data. Big data ini kelebihan utamanya bisa berkreasi dengan segala macam, berinovasi sedemikian rupa mengelompokkan data per daerah, per jenis kelamin, bahkan per alamat dan per suku,” ujarnya.

Bahkan, menurut Tito, big data kependudukan ini sangat mungkin bisa dibuat lebih baik dan mengungguli mesin analisis yang begitu terkenal, Cambridge Analytica.

“Bahkan, (big data kependudukan) mohon maaf, mungkin bisa lebih hebat dari Cambridge Analytica. Cambridge Analytica itu mengambil data-data dari media sosial dan bisa digunakan untuk macam-macam, untuk kepentingan kampanye, dsb,” katanya.

Tito lantas bernostalgia, kala dirinya masih menjadi anggota aktif Kepolisian RI dan bertugas menangani terorisme. Sebelum adanya kerja sama pemanfaatan data kependudukan dengan Dukcapil, Tito mengungkapkan, proses identifikasi pelaku atau korban sangat memakan waktu dan tenaga.

“Pas saya ngurus kasus teror ada bunuh diri di Cirebon. Wajah pelakunya masih ada, finger printnya masih ada, tapi kita gak ngerti waktu itu tentang data Dukcapil. Saat itu, untuk mengungkap pelaku kita lakukan verifikasi manual. Harus bentuk tim segala macam, melacak berhari-hari, berminggu-berminggu, dari berbagai sumber kalo orang ini namanya ‘anu’. Baru terketahui keluarganya siapa, ibunya siapa, diprofiling,” jelasnya.

Namun setelah menggunakan data kependudukan, lanjut Tito, proses-proses verifikasi yang panjang itu menjadi terpangkas. Proses identifikasi menjadi sangat mudah dan cepat. Cukup dengan cek biometrik berupa sidik jari, maka identitas yang bersangkutan langsung muncul.

“Setelah bekerja sama dengan Dukcapil, saya masih ingat di Kampung Melayu ada bom bunuh diri. Saat itu cepat sekali identifikasi pelaku. Nah itu bagaimana kemajuan data Dukcapil luar biasa,” tambahnya.

Namun demikian, Tito berpesan agar setiap jajaran Dukcapil, baik di pusat maupun daerah, dapat menjaga keamanan data kependudukan tersebut dengan baik. 

“Pesan saya, tim IT harus kuat. Sistem security harus first class, wajib. Juga dalam hal pemanfaatan data kependudukan agar sesuai dengan koridor hukum karena data ini sangat sensitif, bisa masuk ke masalah privasi juga,” pungkasnya.